Toxic Positivyty: Motivasi yang Menyakitkan

Oleh: Tresna Putra Wibowo

Acapkali perasaan kita diselimuti dengan kegundahan dan emosi yang tidak menyenangkan. Perasaan tidak menyenangkan datang secara bertubi-tubi tanpa bisa dikendalikan dengan baik. Setiap emosi pasti memiliki pesan yang ingin disampaikan, baik itu marah, rasa jijik, sedih, bahagia, atau takut. Perlu diketahui, secara evolusi, manusia tak punya kemampuan memprogram dirinya sendiri untuk hanya merasa bahagia dan mengesampingkan perasaan muram. Sebenarnya emosi membantu seseorang mengerti beberapa hal. Sebagai contoh, perasaan cemas dalam menjalani tugas dalam rentan waktu dekat secara otomatis setiap individu pasti berpikir bagaimana solusi yang harus dilakukan.

Setiap individu dalam keseharian pasti bertemu dengan kalimat-kalimat motivasi dari seseorang. Motivasi tentunya memiliki tujuan agar seseorang agar bisa kembali survive menjalani kehidupannya. Pada era milenial yang sibuk dengan gawai dan media sosial hal itu lebih dikenal dengan nama toxic positivity. Kebiasaan masyarakat yang kerap memaksakan seseorang untuk berpikir positif tanpa memberikan empati pada masalah yang tengah dihadapi. Tidak selamanya orang yang sedang terpuruk membutuhkan kalimat positif dari kalian. Bahkan yang kalian pikir saat diucapkan baik malah menjadikan seseorang yang terpuruk menjadi tidak percaya diri.

“selalu ada waktu untuk segala hal. Kalau teman Anda ingin mengeluh, perbolehkanlah. Berhentilah mengerjakan apa yang sedang Anda lakukan dan biarkan mereka mengeluarkan emosinya,” tutur Fechner, seperti dikutip 7 News. Perbanyaklah memberikan empati jangan simpati. Sebagai contoh, ketika temanmu lelah dengan tugas karena selalu ditolak oleh dosen yang bersangkutan. Perasaan simpati hanya membuat temanmu tambah bersedih bahkan menitikkan air mata. Apakah air mata bisa menyelesaikan masalahnya? Tidak! Berikanlah empati yang kamu miliki, bantu temanmu sebisa mungkin dengan belajar bersama atau mengajaknya berdiskusi hingga beban dia terkurangi. Jadikan dirimu seperti temanmu hingga bisa merasakan kesulitan yang ada.

Jangan sampai kalian terlalu berpikiran positif yang berlebihan. “sudah jangan nangis saja, semua orang juga punya masalah…” atau kalian sering mengutarakan “kamu harus tetap menjalani hidup. Lihat di luar sana masih banyak yang tidak seberuntung kamu…” “tuh lihat dia fisiknya kurang sempurna. Kamu tersenyum kembali yaa, kamu masih bisa hidup normal” berhenti berucap seperti itu. Belajarlah berempati, posisikan dirimu seperti mereka. Rasakan hal yang diceritakan seseorang lalu berujar sewajarnya.

Jangan jadikan kekurangan orang lain sebagai bahan untukmu bersyukur.

Sumber:

m.merdeka.com

tirto.id

m.cnnindonesia.com


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku, Kamu, Dia, dan Mereka (Sebuah Opini)