(Sekadar Persepsi) The New Normal dan Pendidikan Yang Terus Berjalan
Penulis: Tresna Putra Wibowo
Jumlah korban positif SARS-CoV-2 atau yang sering disebut dengan nama Corona terus bertambah. Pada tanggal 10 Juni 2020 Indonesia mencatat 1.241 kasus baru positif COVID-19 dalam sehari. Tepat pada tanggal 11 Juni 2020 (tulisan ini dibuat) tercatat 979 kasus baru positif COVID-19 dalam sehari dengan total 35.295 kasus di seluruh Indonesia. 2.000 orang meninggal dunia, 12.636 pasien dinyatakan sembuh. Ada 43.414 ODP dan 14.052 PDP. Data tersebut menjelaskan bahwa jumlah kasus positif corona belum bisa dikatakan aman.
Pemerintah kini memilih jalan untuk menerapkan The New Normal atau Normal Baru. Sebuah kebijakan agar rakyat Indonesia bisa berdamai dengan virus yang sudah dinyatakan pandemi oleh WHO. Hal ini berkaitan dengan ketidakmampuan pemerintah menahan laju ekonomi yang terus menurun. Data dari Kemenaker RI (27 Mei 2020) tercatat 1,79 juta pekerja dirumahkan atau terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jumlah pengangguran semakin bertambah. Dari pemikiran itulah Normal Baru diberlakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.
Lalu bagaimana dengan dunia pendidikan? Sistem daring akan terus dilalui sampai waktu yang belum ditentukan. Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Efi Mulyani menegaskan pelajar tidak perlu datang ke sekolah terlebih dahulu. Sistem daring atau luring lah yang akan digunakan. Tidak ada yang salah dengan sistem daring atau luring selagi ada kerjasama yang baik antara guru dan orang tua.
Jika melihat fakta, seorang guru merasa ada kekurangan ketika murid tidak memiliki media pembelajaran yang dibutuhkan saat belajar di rumah. Seorang guru berinisial MM mengatakan “yang jadi masalahnya bukan capek atau enaknya (saat mengajar di rumah). Tapi anak gak menyeluruh dapat pembelajaran. Tidak semua anak mempunyai media yang diajarkan” bisa disimpulkan bahwa media yang dibutuhkan yaitu buku sumber belajar, gawai dan koneksi internet tetapi tidak semua siswa memilikinya. hal-hal itulah yang membuat pembelajaran daring maupun luring di rumah berjalan tidak efektif. Ia pun memiliki solusi “karena berhubung sekolah sekarang memiliki sistem zonasi, ada beberapa anak yang disuruh ngabarin temennya dan orang tuanya suruh ngabarin ke saya dan Alhamdulillah lancar.”
Kendala lain seperti anak yang susah dibangunin ketika pagi padahal sudah waktunya belajar (di stasiun TVRI). Lalu ketika ada pembelajaran yang sulit dan orang di rumah tidak ada yang paham mengenai materi yang disampaikan. Bahkan banyak yang orang tua mengeluh “pekerjaan rumah udah bikin pusing ini ditambah anak ribet ngurusin tugas”. Sudah saatnya normal baru mengembalikan fungsi orang tua sebagai guru yang baik di rumah.
Bagaimanapun kebijakan pemerintah mengenai tata cara pembelajaran di rumah hingga waktu masuk sekolah ditentukan, semoga tidak mengorbankan jiwa-jiwa penerus bangsa. Bagi kalian yang harus tetap melanjutkan kehidupan. Jangan lupakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan senantiasa berdoa agar dilindungi dari wabah COVID-19
Sumber:
Tweet @Asumsico
cnbcindonesia.com
Komentar
Posting Komentar